Islam · kultwit · Parenting

Pola Asuh Diktator (kultwit @kupinang) – Update

Sedang mencari-cari info tentang parenting, kebetulan sekali Ustadz Faizul Adhim, sedang kultwit @kupinang tentang parenting, sekalian saya arsipkan di blog ini. Kultwit ini tentang pola pengasuhan anak diktator, yang merupakan salah satu dari 6 pola asuh.

1. Siapa bilang demokratis merupakan pola asuh terbaik? Ada enam pola asuh yang masing-masing memiliki kelebihan & kelemahannya.

2. Terlalu naif jika menisbahkan kesuksesan mengasuh anak pada pola asuh demokratis, sementara kegagalan pada pola asuh lainnya.

3. Janganlah ketakjuban pd sgala yg tampak ilmiah mnjadikanmu nomorduakn dien. Brsebab takjub pd kata ilmiah, hadis shahih pun dpertanyakan.

4. “Gantungkanlah cambuk di tempat yg mudah dilihat anggota keluarga, krn demikian ini merupakan pendidikan bg mereka.” adalah hadis HASAN.

5. Menukil hadis riwayat Ath-Thabrani tersebut, bukan untuk menyuruhmu pulang mencambuk anak. Tp agar kita tidak ingkari hadis & mencelanya.

6. Bersebab sempitnya ilmu disertai kurang takzimnya pd Nabi saw., betapa kerap terdengar, “Seandainya Nabi hidup skarang ini, saya kira…”

7. Apakah engkau mengira Nabi saw. berbicara dengan hawa nafsunya? Sungguh, tutur katanya trjaga, ia ma’shum. Sedangkn Al-Qur’an adlh wahyu.

8. Firman Allah, “Dan dia (Rasulullah) tidak berbicara dr hawa nafsunya, kecuali itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (An-Najm: 3-4)

9. Firman Allah, “Dan dia (Rasulullah) tidak berbicara dr hawa nafsunya, kecuali itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (An-Najm: 3-4)

10. Dien ini penakarnya. Sikapi dg jernih. Berlebihan dalam melonggarkan maupun mnyempitkan, sama buruknya. Smoga Allah Ta’ala mnolong kita.

11. Beberapa ragam pola asuh yang insyaAllah segera saya tweet, bukan untuk menakjubi psikologi, tp u/ meluaskan pandangan, lalu mencermati.

12. Pola asuh pertama adalah diktator. Dari namanya, ada kesan ngeri. Apa yang terjadi ketika gagal? Dan apa buahnya ketika berhasil?

13. Pola asuh diktator: Kata putusnya bersifat mengikat. Bapak menjadi penentu. Ibu dan anak pertama pemberi masukan yang didengar.

14. Masukan anak lain kurang didengar. Tapi anak-anak itu cenderung diperhatikan sungguh-sungguh. Keputusan bapak sangat mengikat.

15. Hukuman bersifat fisik. Ketika anak beranjak besar & bahkan memasuki dewasa, hukuman mental jadi pilihan.

16. Hukuman mental bisa berwujud anak dipersona-non-gratakan. Anak tak dianggap. Anak dikeluarkan dari anggota keluarga.

17. Jika kepemimpinan kuat, ibu & anak pertama jadi pengayom, cenderung melahirkan anak-anak yang sukses & siap kerja keras habis-habisan.

18. Jika keterikatan pada nilai sangat kuat, pola asuh diktator menjadikan anak siap menderita untuk perjuangkan cita-cita atau keyakinan.

19. Jika kepemimpinan lemah, sikap bapak tak konsisten, sementara ibu tak bisa jadi pengayom, kegagalan membayang di depan mata.

20. Kepemimpinan yang gagal membuat anak cenderung menghindari bapaknya. Anak gamang berpikir dan berpendapat secara mandiri.

21. Kepemimpinan lemah dengan keterikatan kuat pada nilai, dapat mendorong anak berontak pada orangtua dan pada ni
lai yang diyakini.

22. Anak-anak menderita, tetapi mereka cenderung kompak. Anak pertama menjadi figur yang dihormati & dicintai saudaranya.

23. Tetapi pola asuh diktator yang tidak bijak, menjadikan anak pertama “penguasa” yang bikin sewot saudaranya.

24. Anak kurang dekat dengan bapak. Pola asuh ini lebih pas untuk yang anaknya lebih dari 2. Tapi, berhati-hatilah. “Baca” aturan pakai.

25. Jika anak cuma 2, pola asuh diktator dapat menjadikan anak kedua merasa diperlakukan tidak adil. Ini berbahaya

26. Tak jarang, saat dewasa pun mereka masih diperlakukan seperti “kanak-kanak”. Bapak mengontrol berbagai urusan bahkan sampai bajunya.

27. Dmikian catatan sederhana tentang pola asuh pertama: Semoga esok saya bisa tweet tentang pola asuh kedua: benevolent dictator.

28. Karena sambungan dr kultwit sbelumnya ttg pola asuh, maka izinkan sy memulai dg nomor 28 u/ memudahkan mencari kultwit sebelumnya.

29. Melanjutkan perbincangan ttg pola asuh, mari kita lihat bgmn pola asuh benevolent dictator (dktator pnyayang & empatik) besarkn anaknya.

30. Saya berharap para bapak yg lebih banyak menyimak krn kitalah penanggung-jawab utama pendidikan anak, meski ibu yg sering jd pelaksana.

31. Cepat mengambil keputusan, tak dapat ditentang, keputusannya jadi kebijakan, tetapi ia sangat mengerti kebutuhan & perasaan anaknya.

32. Dalam beberapa kasus, bapak tetap boss di rumah, tapi ia sangat empatik. Ia sangat mempertimbangkan perasaan & emosi keluarganya.

33. Pola asuh diktator penyayang, bapak selalu berusaha memahami anaknya, mengerti kebutuhan emosinya sekaligus sangat jelas keputusannya.

34. Di keluarga ini, ibu menjadi konsultan, tempat anak-anak bertanya dan meminta kesejukan. Ia memperoleh dekapan hangat & penguatan.

35. Pola asuh diktator-penyayang: bapak tak segan berkonsultasi dg ibu tentang keputusannya. Ia juga bisa minta masukan sebelum memutuskan.

36. Bapak sangat keras, tapi perhatiannya kepada anak maupun keluarga secara keseluruhan sangat besar. Ia pahlawan keluarga yang dicintai.

37. Kelebihan pola asuh ini: aturan tegas, disiplin tinggi & anak-anak maupun ibu punya ksempatan mngungkapkan perasaan tanpa takut ditekan.

38. Umumnya masyarakat merasa nyaman dg pola asuh ini & memberi dukungan. Keras tapi tak beringas, lembut tapi tak larut dlm bujuk anak.

39. Pembentukan manner (adab) lebih muda, anak menemukan pola yg konsisten & teratur, aturan keras tapi anak merasa orangtua tak kejam.

40. Kerna penyayang & empatik, anak cenderung merasa ini merupakan model keluarga yang sangat mencintai anak-anaknya. Mereka bangga.

41. Jika kepemimpinan kuat, diktator penyayang cenderung antar anak sukses, disiplin tinggi, kuat pegangi prinsip & sayangi saudaranya.

42. Ibu berkarier yg di kantor jadi boss & sulit menerima posisi sebagai orang nomor 2 di rumah, potensial merusak kepemimpinan. @orangawam1

43. Faktor utama yang pengaruhi adalah ego; gengsi. Jika tidak ada komitmen terhadap masa depan anak, ego pribadi mudah merusak.

44. Berontaknya remaja yang sering dicemaskan orangtua, biasanya terjadi pada keluarga dengan pola asuh ini. Apa sebabnya?

45. Mereka berontak karena ada figur sentral yang kuat & memiliki otoritas penuh. Ini terutama terjadi ketika kepemimpinan bapak lemah.

46. Orangtua perlu mengubah gaya komunikasi menjelang anak memasuki usia remaja, dari instruksional kepada gaya komunikasi dialogis.

47. Orangtua diktator penyayang yg mampu menjalin komunikasi hangat dg anak, mereka jadi figur yg dihormati. Mereka segan. Bukan enggan.

48. Jika NILAI kuat, pola asuh ini cenderung jadikan anak siap brpayah-payah perjuangkan idealisme. Tak mudah mengeluh. Brpegang pd prinsip.

49. Keluarga sangat penting. Ikatan emosi dg orangtua & saudara-saudara sangat besar. Mereka cnderung bangga pd orangtua. Keras tp dirindui.

50. Setelah dewasa, anak cnderung siap berkorban u/ orangtua & saudaranya. Mereka merasa senang saudaranya sukses. Tak hanya u/ dirinya.

51. Demikian beberapa catatan tentang pola asuh diktator penyayang. InsyaAllah berikutnya tentang pola asuh “Dewan Kepresidenan”.

52. Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Semoga kita mampu belajar, bercermin dan berbenah. Semoga Allah Ta’ala menolong kita semua.

53. Sampai di sini kita baru membahas pola asuh berdasar teori psikologi. Belum menyentuh Islam. Dari 2 pola asuh, NILAI poin pentingnya.

54. Maka ini pun belum dapat dikatakan psikologi Islam. Banyak hal yang tak tersentuh oleh psikologi. @aldiladyas @syarifbaraja @orangawam1

55. Semoga sesudah membahas 6 pola asuh, dapat berbincang pula tentang pengasuhan menurut Islam. Perlu belajar banyak pada @orangawam1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s